IBU _dalam puisi

IBUKU JANDA    part 1 

Siapakah  yang kan mampu mengira’
Nasib tak lagi berpihak pada cita dan asa
Ibuku menjanda di usia belia
Terhempas bahagia menjadi derita dalam lorong nestapa

Ibuku janda’
Bermandikan  cucuran air mata
Berselimutkan linangan hati lara
Bersabar ikhlas di setiap munajat doa
Berusaha mengikuti skenario sang pencipta

Secercah hinaan kerap dilayangkan
Segenggam batu cacian turut dilemparkan
Namun, ulasan senyum senantiasa ditebarkan
Tak sedikitpun kau pedulikan
Berharap anakmu kelak bergelimangan kemuliaan

Ibuku janda’, …. dan aku selalu memuja







IBUKU JANDA    part 2  

Beribu langkah terseok menyusuri kerasnya aspal
Berirama denyut  kerikil tanpa sandal
Berpayung tampah  mengusir kegerahan
Berteriak mulut tak henti menawarkan jajanan

Ibuku malang ibuku sayang
Berkeliling sepanjang trotoar kota mayang’
Menukar perih dengan selembar ribuan atau lima ratusan
Demi  rasa  lapar anak semata wayang  yang tak tertahan

Ibuku  sayang  Ibuku malang
Perjuanganmu tak pernah lekang 
Menggelora buih ditimpa gelombang

Kau rela mengikrarkan sumpah ibu sejati
Berusaha menunaikan perjanjian ILLAHI
Berpelukan rasa tegar menafkahi seorang diri

Terimakasih untukmu  ibu …






SURGA IBU   untukku


Tetesan air matamu terbasuh
Buliran keringatmu tersapuh
Saat tangisan pertamaku tersentuh 

Sembilan  bulan rasa sebah terbayarkan
Kelahiran dalam payah tergadaikan
Hilang lenyap tatkala sosok mungil dalam buaian

Ibu ...  demi mutiara hati  titisan surga
Kau kerahkan jiwa dan raga
Berjihad mempertaruhkan nyawa

Ibu ... perjuanganmu tak terbalaskan
Segudang pujian tak cukup kata tuk melukiskan
Keikhlasanmu mengukirku dalam prasasti  kehidupan

Hanya lantunan doa tak kunjung pudar untukmu
Ibuku, surgaku ada di telapak kakimu
Ibu  ... ijinkanlah surgamu untuk aku





DALAM  DIAMMU  IBU


Dalam diammu Ibu,
Kau coba redamkan amarahmu
Melihat kebrutalanku menggebu menyerangmu 

Dalam diammu Ibu,
Kau coba teguhkan toleransimu
Melihat keegoisanku kau genggam dalam sembilu

Terlalu sering aku mengacuhkanmu bahkan melupakanmu
Terlalu sering kunistakan petuahmu
Tanpa kusadari kebodohanku mengiris kalbumu ...  

Bibirmu bergetar dalam kesedihan, namun senantiasa doa yang terlontar
Hatimu terisak dalam kedukaan, namun bibir tetap berhias tawa kelakar

Tak sedikitpun kau tunjukkan raut kebencian
Tak pernah sekalipun kau perlihatkan kemuraman

Hanya doa kau berikan padaku, anakmu ...
Yang selalu menyalkitimu, maafkan  aku ibu






MAMAKU  SETEGAR GUNUNG BATU


Maafkan aku Ma …
Tangisan  piluku jatuh di pangkuanmu
Terus mengadukan keluh kesahku
Cerita  pahit hidupku memenuhi benakmu
Seakan kau tebaran sutra lembut tempatku mengadu

Deraan hidupku  terus berpacu
Menggucang kalbu haruku
Senantiasa membangunkan tidurmu

Ku tak mampu setegar kau, mama
Ku tak setangguh ketulusanmu
Dalam menyembunyikan rasa sesak di dadamu

Ku tak bisa setulus iklasmu  
Meredam emosi diri, tetap jadi penyejuk hati
Dalam menjalani takdir ILLAHI





BAIT RINDU untuk BUNDA   


Temaram senja bergelayut merah
Membawa seraut wajah meronah
Berhias bibir merah merekah
Dialah Bunda tercantik di rumah

Merenung di bawah gerimis tak diundang
Menggugah haru berlabuh gelombang
Terlihat sosok ayu .... lembut  menganggumkan
Dialah bunda teranggun nan elegan

Kubuka  lembaran album nan usang
Menghidupakan kenangan yang sempat menghilang
Terlukis  kembali sejarah gemilang dalam benak ingatan
Membuncah rindu yang terpendam

Bunda .…
Lihatlah  ku disini menanggung rindu
Setiap ku berseru yang ku sebut hanya namamu





DUSTAMU IBU   


Dustamu ibu
Mengoyak egoku
Menyurutkan ambisiku
Membangun gelombang simpatiku

Dusta kebaikan yang kau tebar
Melawan kebohongan bak penawar
Melaju kencang asa berlayar

Tidurmu  tanpa mata terpenjam
demi tidur nyenyakku

Istirahatmu  tanpa rasa kenyang
Demi terisi laparku

Kerjamu tanpa bekal rupiah
Demi uang saku sekolahku

Engkau katakan tak butuh itu semua
Yang kau katakan untuk kamu saja anakku”





SIMBOK,   I LOVE U   


Simbok sanes  kanjeng ratu
Ingkang waton lungguh nang dhampar
Simbok dudu raden ayu
Ingkang waton nganggem kembang lulur

Simbok sanes bunda sing seneng bengesan
Ingkang saged dandan gamisan
Simbok uga sanes mama syantik sing kesepen
Ingkang seneng jalan ngemal nang pusat belanjaan

Simbok namung tiyang kampung pinggiran
Dolane saban alas kebon
Namung cukup dasteran
Klambi bolong rada kedodoran

Simbok uga mama, bunda,  raden ayu lan kanjeng ratu
Merga pada-pada kenya sing nglairake aku
Simbok, I love you 






IBU yang MENGHILANG  


Bagaimana ku tak bisa menahan rasa
Saat kau tebar pesona
Sebatas   dunia maya dan sosial media
Mampu tumbuhkan cemburu luar biasa

Kusimpan rasa sakit ini
Kan kuharap tirai berganti
Belaianmu kan selalu kunanti

Rindu … itu sudah pasti rindu
Rasa yang terbelenggu
Diantara keinginan menggebu
Sayang, semua hilang bak debu

Ibu kau tetap tersembunyi di pojok khayalan
Bersenandung dalam dekapan
Tersimpan di hati terdalam 







BOLEHKAH KU PANGGIL ENGKAU BUNDA?


Bunda,
Di  manakah kau saat  ku butuh tanganmu ?
Tuk menuntun kaki yang tertatih ke arahmu

Bunda,
Di manakah kau saat ku  butuh belaianmu?
Tuk mendekap hangat tubuh yang membeku

Bunda,
Tak sempatkah kau memeluk tubuh mungilku
Tak bersediakah kau membopong badan kerdilku
Atau sekedar menatap mata kecilku

Ijinkan aku menggenggam jemarimu
Sekedar mencium aroma keringatmu
Atau ku raih telapak kakimu
Sehingga ku dekat dengan surga ku

Bolehkah ku panggil engkau bunda?





Komentar

Postingan Populer